Pelatihan BLUD Rumah Sakit

Bimtek iDRG dan Coding JKN 2026 untuk Rumah Sakit: Strategi Casemix, Clinical Documentation, Akurasi Coding dan Efisiensi Biaya

Transformasi sistem pembiayaan pelayanan kesehatan di Indonesia terus berkembang. Rumah sakit yang bekerja sama dengan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) perlu mempersiapkan diri menghadapi perubahan dalam sistem pembayaran, pengelompokan kasus, dokumentasi klinis, pengkodean diagnosis dan tindakan, hingga analisis klaim.

Salah satu perkembangan penting yang menjadi perhatian rumah sakit pada tahun 2026 adalah pengembangan dan uji coba sistem pembayaran berbasis Indonesian Diagnosis Related Groups (iDRG). Kementerian Kesehatan telah menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/177/2026 mengenai Tim Uji Coba Penerapan Sistem Pembayaran secara iDRG, Kelas Rawat Inap Standar (KRIS), dan rujukan berbasis kemampuan pelayanan pada fasilitas pelayanan kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.

Perubahan tersebut membuat rumah sakit tidak cukup hanya memahami aspek coding secara teknis. Rumah sakit juga perlu membangun keterkaitan antara clinical documentation, coding, casemix, klaim JKN, mutu pelayanan, pengendalian biaya, dan tata kelola rumah sakit.

Karena itu, Bimtek iDRG dan Coding JKN 2026 untuk Rumah Sakit menjadi salah satu bentuk penguatan kompetensi yang relevan bagi tenaga koder, dokter, case manager, verifikator internal, bagian klaim, rekam medis, manajemen pelayanan, keuangan, hingga pimpinan rumah sakit.

Mengapa iDRG dan Coding JKN Menjadi Penting bagi Rumah Sakit?

Sistem pembayaran berbasis kelompok diagnosis membutuhkan data klinis dan administratif yang akurat. Diagnosis pasien, kondisi penyerta, tindakan medis, prosedur, tingkat kompleksitas kasus, lama perawatan, serta dokumentasi pelayanan dapat memengaruhi proses pengelompokan kasus dan analisis pembiayaan.

Dalam pengembangan iDRG, Kementerian Kesehatan juga menjelaskan bahwa penentuan tarif mempertimbangkan tingkat kesulitan kasus dan komponen seperti Comorbidity & Complexity (CC). Pengembangan tersebut diarahkan untuk mendukung sistem pembayaran yang lebih presisi serta mempertimbangkan kompetensi pelayanan rumah sakit.

Artinya, kualitas data klinis menjadi semakin penting.

Jika dokumentasi klinis tidak lengkap, koder dapat mengalami kesulitan dalam menentukan kode yang tepat. Jika coding tidak akurat, pengelompokan kasus dapat menjadi tidak sesuai. Selanjutnya, kondisi tersebut dapat berdampak pada proses klaim, analisis biaya, hingga evaluasi kinerja pelayanan.

Secara sederhana, rantai prosesnya dapat digambarkan sebagai berikut:

Pelayanan Klinis → Clinical Documentation → Coding → Casemix/iDRG → Klaim JKN → Analisis Biaya → Evaluasi Kinerja Rumah Sakit

Setiap bagian dalam rantai tersebut saling berkaitan.

Apa Itu iDRG?

Indonesian Diagnosis Related Groups atau iDRG merupakan pendekatan pengelompokan kasus pelayanan kesehatan berdasarkan karakteristik klinis dan penggunaan sumber daya.

Dalam sistem berbasis DRG, pasien dengan karakteristik diagnosis dan kebutuhan pelayanan yang relatif serupa dikelompokkan ke dalam kelompok tertentu untuk mendukung mekanisme pembayaran dan analisis pembiayaan.

Pengembangan iDRG di Indonesia menjadi bagian dari transformasi sistem pembiayaan pelayanan kesehatan. Pada 2026, Kementerian Kesehatan telah melakukan berbagai aktivitas terkait persiapan dan uji coba iDRG, termasuk aspek pengkodean diagnosis dan tindakan, optimalisasi input data, penyelesaian kasus ungroupable, serta analisis data klaim.

Hal tersebut menunjukkan bahwa implementasi iDRG bukan sekadar perubahan aplikasi atau perubahan istilah dari sistem sebelumnya.

Rumah sakit perlu memahami proses secara menyeluruh.

Perbedaan Fokus Coding dan Casemix

Coding dan casemix sering kali dianggap sebagai satu aktivitas yang sama. Padahal keduanya memiliki ruang lingkup yang berbeda.

Coding lebih berfokus pada penerjemahan informasi klinis ke dalam kode diagnosis dan tindakan sesuai standar pengkodean yang berlaku.

Sementara itu, casemix mempunyai cakupan yang lebih luas karena berkaitan dengan pengelompokan kasus berdasarkan karakteristik klinis, penggunaan sumber daya, tingkat kompleksitas, serta aspek pembiayaan.

Aspek Coding Casemix
Fokus Kode diagnosis dan tindakan Pengelompokan kasus
Sumber utama Rekam medis Data klinis, coding dan administrasi
Pelaksana utama Koder Tim casemix/casemix manager
Tujuan Menghasilkan kode akurat Mendukung grouping dan pembiayaan
Risiko kesalahan Salah kode Salah kelompok/analisis kasus
Keterkaitan Bagian dari proses casemix Menggunakan hasil coding

Oleh sebab itu, peningkatan kualitas casemix harus dimulai dari peningkatan kualitas data dan coding.

Clinical Documentation: Fondasi Utama Coding yang Akurat

Salah satu permasalahan yang sering muncul dalam proses klaim adalah dokumentasi klinis yang belum cukup mendukung proses pengkodean.

Dokter dan tenaga kesehatan memberikan pelayanan berdasarkan kondisi pasien. Namun, apabila kondisi klinis, diagnosis, komplikasi, komorbiditas, tindakan, atau kondisi lain tidak terdokumentasi secara jelas, koder akan menghadapi keterbatasan ketika melakukan pengkodean.

Clinical Documentation Improvement atau CDI menjadi semakin relevan dalam konteks ini.

Tujuan utamanya bukan mengarahkan dokter untuk menulis diagnosis tertentu demi kepentingan klaim. Sebaliknya, tujuan CDI adalah memastikan bahwa kondisi klinis pasien yang memang ditemukan dan ditangani terdokumentasi secara lengkap, jelas, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Beberapa aspek dokumentasi yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Diagnosis utama dan diagnosis sekunder.
  • Kondisi penyerta atau komorbiditas.
  • Komplikasi selama pelayanan.
  • Tindakan dan prosedur yang dilakukan.
  • Kondisi pasien saat masuk dan selama perawatan.
  • Hasil pemeriksaan yang relevan.
  • Hubungan antara diagnosis dan tindakan.
  • Respons pasien terhadap terapi.
  • Kondisi khusus yang memengaruhi kompleksitas pelayanan.

Dokumentasi klinis yang baik membantu menciptakan kesinambungan antara dokter, perawat, koder, verifikator dan tim klaim.

Hubungan Dokter dan Koder dalam Proses Coding

Koder tidak seharusnya bekerja sendirian ketika menemukan dokumentasi yang ambigu.

Sebaliknya, rumah sakit perlu membangun mekanisme komunikasi yang baik antara tenaga medis dan koder.

Sebagai contoh, apabila terdapat kondisi klinis yang ditangani tetapi dokumentasinya belum jelas, koder dapat melakukan proses klarifikasi sesuai prosedur rumah sakit dan ketentuan yang berlaku.

Kolaborasi tersebut dapat meningkatkan:

  1. Kelengkapan dokumentasi.
  2. Akurasi kode.
  3. Konsistensi data rekam medis.
  4. Kualitas grouping.
  5. Kualitas pengajuan klaim.
  6. Analisis biaya pelayanan.

Dengan demikian, coding bukan sekadar pekerjaan administratif.

Coding merupakan bagian dari sistem informasi klinis dan pembiayaan rumah sakit.

Strategi Meningkatkan Akurasi Coding JKN

Akurasi coding perlu dibangun melalui sistem yang terstruktur.

Beberapa strategi yang dapat dilakukan rumah sakit antara lain:

1. Memperkuat Kompetensi Koder

Koder perlu memahami perkembangan sistem pengkodean, terminologi medis, diagnosis, prosedur, aturan coding, serta perkembangan sistem casemix dan iDRG.

Kementerian Kesehatan sendiri telah menyelenggarakan pelatihan pengkodean diagnosis penyakit dan tindakan bagi tenaga koder di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat lanjut dalam program JKN. Materi pelatihan juga mencakup optimalisasi input data, penyelesaian masalah ungroupable pada aplikasi e-Klaim iDRG, serta analisis data klaim.

2. Melakukan Audit Coding Secara Berkala

Audit coding dapat digunakan untuk menemukan pola kesalahan.

Audit tidak semata-mata bertujuan mencari kesalahan individu, tetapi untuk mengetahui apakah terdapat masalah sistemik.

Misalnya:

  • Kesalahan pemilihan kode.
  • Diagnosis tidak didukung dokumentasi.
  • Diagnosis sekunder terlewat.
  • Prosedur belum dikodekan.
  • Ketidaksesuaian antara rekam medis dan data klaim.
  • Dokumentasi dokter belum cukup spesifik.

3. Membangun Clinical Documentation Improvement

Rumah sakit perlu membuat mekanisme koordinasi antara dokter, rekam medis, koder dan tim klaim.

CDI dapat membantu mengidentifikasi area dokumentasi yang perlu diperbaiki tanpa mengubah fakta klinis pasien.

4. Membuat Dashboard Klaim

Data klaim sebaiknya tidak hanya digunakan untuk mengetahui apakah klaim dibayar atau dikembalikan.

Rumah sakit dapat mengembangkan dashboard yang memantau:

  • Jumlah kasus.
  • Nilai klaim.
  • Kasus pending.
  • Kasus dispute.
  • Kasus ungroupable.
  • Pola diagnosis.
  • Pola tindakan.
  • Average Length of Stay.
  • Cost per case.
  • Perbandingan tarif dan biaya aktual.
  • Tren klaim per unit pelayanan.

Dengan dashboard tersebut, manajemen dapat melihat permasalahan lebih cepat.

Mengenal Masalah Ungroupable dalam Proses iDRG

Salah satu tantangan yang perlu diperhatikan adalah kasus ungroupable.

Ungroupable secara sederhana dapat dipahami sebagai kondisi ketika data yang dimasukkan belum dapat menghasilkan kelompok kasus yang sesuai pada sistem grouping.

Penyebabnya dapat berkaitan dengan data yang tidak lengkap, kode yang tidak sesuai, kombinasi data tertentu, atau masalah input.

Karena itu, rumah sakit perlu memiliki prosedur untuk melakukan:

Identifikasi → Analisis Penyebab → Perbaikan Data → Validasi → Grouping Ulang

Masalah ungroupable sebaiknya tidak hanya diselesaikan pada akhir proses klaim.

Jika pola ungroupable terus berulang, rumah sakit perlu melakukan analisis akar masalah.

Efisiensi Biaya Melalui Penguatan Casemix

Efisiensi biaya rumah sakit tidak berarti mengurangi pelayanan kepada pasien.

Efisiensi berarti memastikan sumber daya digunakan secara tepat, terukur dan sesuai kebutuhan klinis.

Dalam konteks casemix, rumah sakit dapat membandingkan antara:

Pendapatan/Klaim per Kasus vs Biaya Aktual Pelayanan per Kasus

Dari perbandingan tersebut, rumah sakit dapat mengetahui kasus mana yang membutuhkan perhatian.

Misalnya terdapat kelompok kasus tertentu yang secara konsisten membutuhkan biaya aktual lebih tinggi dibandingkan penerimaan atau tarif yang diperoleh.

Manajemen kemudian dapat melakukan evaluasi:

  • Apakah lama rawat terlalu tinggi?
  • Apakah terdapat penggunaan obat tertentu yang perlu dievaluasi?
  • Apakah pemeriksaan penunjang terlalu banyak?
  • Apakah terdapat keterlambatan tindakan?
  • Apakah alur pelayanan tidak efisien?
  • Apakah terdapat variasi clinical pathway?
  • Apakah dokumentasi dan coding sudah benar?

Dengan pendekatan tersebut, data casemix dapat menjadi alat manajemen.

Menghubungkan iDRG dengan Clinical Pathway

Clinical pathway dapat membantu rumah sakit mengendalikan variasi pelayanan untuk kasus tertentu.

Ketika data casemix digabungkan dengan clinical pathway, manajemen dapat melihat apakah pelayanan aktual sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan.

Contohnya, rumah sakit dapat mengevaluasi:

  • Lama rawat pasien.
  • Waktu tunggu tindakan.
  • Pemeriksaan penunjang.
  • Penggunaan obat.
  • Penggunaan alat kesehatan.
  • Kebutuhan ICU.
  • Komplikasi.
  • Readmission.
  • Biaya pelayanan.

Data tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan mutu sekaligus efisiensi.

Peran Tim Casemix Rumah Sakit

Implementasi iDRG membutuhkan kolaborasi lintas unit.

Tim yang terlibat dapat mencakup:

  • Dokter.
  • Perawat.
  • Koder.
  • Rekam medis.
  • Case manager.
  • Verifikator internal.
  • Tim klaim.
  • Bagian keuangan.
  • IT/SIMRS.
  • Manajemen rumah sakit.
  • Unit mutu.
  • Unit pelayanan.

Setiap unit memiliki peran berbeda.

Unit Peran Utama
Dokter Menyediakan dokumentasi klinis
Koder Melakukan coding diagnosis dan tindakan
Rekam Medis Menjamin kelengkapan dan ketersediaan dokumen
Case Manager Mengawal koordinasi pelayanan
Verifikator Internal Melakukan pemeriksaan data
Klaim Menyiapkan dan memantau proses klaim
Keuangan Menganalisis dampak pembiayaan
IT/SIMRS Mendukung integrasi dan kualitas data
Manajemen Mengambil keputusan berdasarkan data

Kolaborasi ini penting karena kesalahan pada satu titik dapat berdampak pada proses berikutnya.

Tantangan Implementasi iDRG di Rumah Sakit Tahun 2026

Perubahan menuju sistem iDRG membawa sejumlah tantangan.

Perubahan Sistem dan Regulasi

Rumah sakit perlu mengikuti perkembangan kebijakan terbaru.

Pada 2026, selain kebijakan terkait iDRG, terdapat pula perkembangan regulasi rumah sakit. Permenkes Nomor 6 Tahun 2026 tentang Rumah Sakit tercatat berlaku dan diundangkan pada 12 Juni 2026.

Karena itu, tim rumah sakit perlu memiliki kebiasaan melakukan regulatory update secara berkala.

Kualitas Data

Data yang tidak lengkap dapat memengaruhi proses coding dan grouping.

Kompetensi SDM

Koder, dokter, case manager dan tim klaim perlu memiliki pemahaman yang selaras.

Integrasi Sistem Informasi

Data rekam medis, SIMRS, coding, klaim dan keuangan perlu semakin terintegrasi.

Analisis Biaya

Rumah sakit perlu mulai melihat biaya berdasarkan kasus, bukan hanya berdasarkan unit atau akun belanja.

Strategi Persiapan Rumah Sakit Menghadapi iDRG

Rumah sakit dapat menggunakan beberapa langkah berikut sebagai roadmap persiapan:

Tahap 1 – Assessment

Lakukan pemetaan kondisi saat ini.

Identifikasi:

  • Kompetensi koder.
  • Kualitas dokumentasi.
  • Sistem coding.
  • Sistem klaim.
  • Sistem informasi.
  • Data casemix.
  • Masalah ungroupable.
  • Pending claim.
  • Dispute claim.

Tahap 2 – Standardisasi

Susun standar operasional dan alur kerja yang jelas.

Tahap 3 – Penguatan SDM

Lakukan pelatihan dan peningkatan kompetensi.

Tahap 4 – Clinical Documentation Improvement

Bangun mekanisme peningkatan kualitas dokumentasi.

Tahap 5 – Audit dan Monitoring

Lakukan audit coding dan klaim secara berkala.

Tahap 6 – Dashboard Manajemen

Gunakan data untuk monitoring kinerja.

Tahap 7 – Continuous Improvement

Gunakan hasil evaluasi untuk memperbaiki proses pelayanan.

Materi yang Perlu Dibahas dalam Bimtek iDRG dan Coding JKN 2026

Program Bimtek iDRG dan Coding JKN untuk rumah sakit sebaiknya tidak hanya membahas teori coding.

Materi dapat mencakup beberapa area berikut:

Pemahaman Dasar iDRG

Peserta memahami konsep DRG, casemix, pengelompokan kasus dan arah pengembangan iDRG di Indonesia.

Coding Diagnosis dan Tindakan

Peserta memahami prinsip coding dan pentingnya konsistensi antara dokumentasi klinis dengan kode yang dihasilkan.

Clinical Documentation

Peserta memahami bagaimana dokumentasi klinis yang lengkap dapat mendukung akurasi coding.

Analisis Klaim

Peserta mempelajari cara membaca data klaim dan menemukan pola masalah.

Ungroupable

Peserta memahami identifikasi, analisis dan penyelesaian kasus yang tidak dapat digroup.

Audit Coding

Peserta mempelajari pendekatan audit untuk meningkatkan kualitas coding.

Analisis Cost per Case

Peserta memahami hubungan antara casemix, biaya pelayanan dan efisiensi rumah sakit.

Strategi Manajemen

Manajemen mendapatkan perspektif untuk menggunakan data casemix sebagai dasar pengambilan keputusan.

Manfaat Bimtek iDRG dan Coding JKN bagi Rumah Sakit

Pelatihan yang dirancang secara komprehensif dapat memberikan manfaat antara lain:

  • Meningkatkan pemahaman terhadap perkembangan iDRG.
  • Meningkatkan kompetensi tenaga koder.
  • Meningkatkan kualitas clinical documentation.
  • Mengurangi kesalahan coding.
  • Mengurangi potensi kasus ungroupable.
  • Meningkatkan kualitas data klaim.
  • Mendukung proses verifikasi internal.
  • Membantu mengidentifikasi masalah klaim.
  • Mendukung analisis biaya per kasus.
  • Meningkatkan koordinasi lintas unit.
  • Mendukung efisiensi penggunaan sumber daya.
  • Memperkuat tata kelola pelayanan rumah sakit.

Siapa yang Perlu Mengikuti Bimtek iDRG dan Coding JKN?

Program ini relevan untuk berbagai unsur rumah sakit, khususnya:

  1. Direktur rumah sakit.
  2. Manajer pelayanan.
  3. Dokter.
  4. Dokter penanggung jawab pelayanan.
  5. Tenaga koder.
  6. Petugas rekam medis.
  7. Case manager.
  8. Tim casemix.
  9. Tim klaim JKN.
  10. Verifikator internal.
  11. Bagian keuangan.
  12. Tim mutu.
  13. Tim IT/SIMRS.
  14. Kepala instalasi/unit pelayanan.
  15. Pengelola BLUD rumah sakit.

Penguatan iDRG sebaiknya tidak hanya menjadi tanggung jawab bagian klaim. Ini merupakan agenda lintas unit yang berkaitan dengan pelayanan, dokumentasi, data, pembiayaan dan manajemen.

Integrasi iDRG dengan Transformasi Tata Kelola Rumah Sakit

iDRG pada akhirnya tidak berdiri sendiri.

Rumah sakit membutuhkan tata kelola yang mampu menghubungkan digitalisasi, kinerja, manajemen risiko, mutu pelayanan, efisiensi biaya dan business excellence.

Karena itu, penguatan kompetensi iDRG dan coding dapat menjadi bagian dari agenda transformasi tata kelola rumah sakit secara lebih luas.

Untuk pembahasan yang lebih komprehensif mengenai transformasi tata kelola rumah sakit dan Puskesmas, Anda juga dapat membaca Bimtek Transformasi Tata Kelola BLUD Rumah Sakit dan Puskesmas Berbasis Digital, Kinerja, Manajemen Risiko, dan Business Excellence Tahun 2026.

Pendekatan tersebut membantu rumah sakit melihat iDRG bukan hanya sebagai sistem pembayaran, tetapi sebagai salah satu sumber data penting untuk meningkatkan kinerja organisasi.

Peran Data iDRG dalam Pengambilan Keputusan Manajemen

Data iDRG dapat digunakan untuk menghasilkan informasi strategis.

Manajemen dapat menggunakannya untuk menjawab pertanyaan seperti:

  • Kasus apa yang paling banyak ditangani?
  • Kasus apa yang paling tinggi biayanya?
  • Kasus mana yang memiliki variasi lama rawat paling tinggi?
  • Unit pelayanan mana yang memiliki cost per case tinggi?
  • Apa penyebab terjadinya pending claim?
  • Berapa banyak kasus ungroupable?
  • Apa pola diagnosis dan tindakan yang dominan?
  • Apakah terdapat perbedaan antara biaya aktual dan pendapatan?
  • Apakah clinical pathway sudah berjalan efektif?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengubah data coding dari sekadar data administratif menjadi data strategis untuk manajemen rumah sakit.

Regulasi dan Sumber Informasi Pemerintah Terkait

Rumah sakit sebaiknya selalu mengacu pada sumber resmi pemerintah ketika mengikuti perkembangan regulasi.

Beberapa sumber yang relevan antara lain:

JDIH Kementerian Kesehatan Republik Indonesiahttps://jdih.kemkes.go.id/

Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatanhttps://keslan.kemkes.go.id/

Learning Management System Kementerian Kesehatanhttps://lms.kemkes.go.id/

Informasi mengenai Kepmenkes Nomor HK.01.07/Menkes/177/2026 tentang tim uji coba penerapan pembayaran iDRG, KRIS dan rujukan berbasis kemampuan pelayanan dapat dilihat melalui JDIH Kementerian Kesehatan.

Kesimpulan

Implementasi iDRG dan penguatan coding JKN pada tahun 2026 menjadi bagian penting dari kesiapan rumah sakit menghadapi transformasi sistem pembiayaan dan pelayanan kesehatan.

Keberhasilan penerapan iDRG tidak hanya ditentukan oleh aplikasi atau sistem grouping. Faktor yang sangat penting adalah kualitas data klinis, ketepatan coding, kelengkapan clinical documentation, kompetensi tenaga kesehatan, integrasi sistem informasi dan kemampuan manajemen dalam menganalisis data.

Rumah sakit perlu membangun proses yang terintegrasi mulai dari pelayanan pasien hingga analisis biaya.

Clinical Documentation → Coding → Casemix → iDRG → Klaim → Cost Analysis → Performance Improvement

Dengan pendekatan tersebut, rumah sakit tidak hanya berupaya menghasilkan klaim yang akurat, tetapi juga dapat menggunakan data casemix sebagai dasar untuk meningkatkan mutu pelayanan, mengendalikan biaya, mengoptimalkan sumber daya dan memperkuat kinerja organisasi.

Bimtek iDRG dan Coding JKN 2026 untuk Rumah Sakit menjadi relevan sebagai sarana meningkatkan kompetensi SDM sekaligus menyatukan pemahaman antara dokter, koder, rekam medis, case manager, tim klaim, keuangan, IT dan manajemen.

Pada akhirnya, transformasi sistem pembiayaan harus berjalan seiring dengan transformasi tata kelola rumah sakit. Semakin baik rumah sakit memahami hubungan antara pelayanan, dokumentasi, coding, casemix dan biaya, semakin kuat pula kemampuan rumah sakit dalam menghadapi perubahan sistem JKN.

FAQ

Apa itu Bimtek iDRG dan Coding JKN 2026?

Bimtek iDRG dan Coding JKN 2026 merupakan program peningkatan kompetensi yang membahas konsep iDRG, coding diagnosis dan tindakan, casemix, clinical documentation, klaim JKN, ungroupable, audit coding serta analisis biaya pelayanan rumah sakit.

Siapa yang perlu mengikuti pelatihan iDRG dan Coding JKN?

Pelatihan dapat diikuti oleh tenaga koder, rekam medis, dokter, case manager, tim casemix, tim klaim JKN, verifikator internal, bagian keuangan, IT/SIMRS, unit mutu, manajer pelayanan dan pimpinan rumah sakit.

Mengapa clinical documentation penting dalam iDRG?

Clinical documentation menjadi sumber informasi penting dalam proses coding. Dokumentasi yang lengkap, jelas dan konsisten membantu koder menghasilkan kode yang lebih akurat dan mendukung proses grouping serta analisis klaim.

Apa manfaat iDRG bagi manajemen rumah sakit?

Data iDRG dan casemix dapat membantu manajemen menganalisis pola kasus, biaya pelayanan, lama rawat, klaim, variasi pelayanan dan efisiensi sumber daya sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dan peningkatan kinerja rumah sakit.

Tingkatkan kompetensi tim rumah sakit dalam menghadapi transformasi sistem pembiayaan JKN 2026. Bangun pemahaman yang sama antara dokter, koder, rekam medis, casemix, klaim, keuangan dan manajemen agar proses coding semakin akurat, dokumentasi semakin kuat, klaim semakin berkualitas, dan pengelolaan biaya semakin efisien.

Daftar sekarang dan jadwalkan pelatihan terbaik untuk instansi Anda!
📱 WhatsApp / Telp : 0823-6439-7553
📧 Email : www.bludprofesional.com
🌐 Website: info@bludprofesional.com